Jawab Keraguan Warkop ‘Bukan’ untuk Perempuan, Efi Lee: Jangan Takut dengan Stigma

 

LAYANI PENGUNJUNG - Efi Lee sedang melayani pengunjung Warkop 7odo. Kedua pengunjung merupakan pelanggan setia.

Siang itu, saya mengunjungi ke Warung Kopi (Warkop) 7odo (baca: jodo) di Jalan Prof. M. Yamin, Kota Pontianak. Dari parkiran, terdengar ruko dua lantai itu riuh oleh suara para pemain gim. Tampak pula beberapa pria yang mengenakan kemeja rapi seperti para pekerja lepas, sedang sedang berdiskusi tentang berbagai pekerjaan.

Oleh: Shella Rimang 

Warkop yang berdiri pada 2018 itu sama sekali tak berubah, tak ikut-ikutan tren kafe kekinian yang digandrungi para anak muda. 

Memasuki warkop, saya disambut perempuan berambut panjang dan bermata sipit yang tidak asing. Orang-orang banyak memanggilnya Cece. Namanya Margareta Efi atau lebuh dikenal sebagai Efi Lee. Hampir setiap pengunjung yang datang disapa oleh Cece, termasuk juga saya.

Efi yang merupakan ibu tunggal, memiliki satu anak perempuan yang sedang berkuliah di Jakarta. Sang anak adalah penyemangat hidupnya. Sebagai seorang perempuan plus ibu, ia paham masalah ekonomi dalam keluarga menjadi salah satu faktor penting. 

Tak heran, jika perempuan juga dituntut untuk bisa produktif, selain karena tuntutan tapi juga pembuktian diri bahwa perempuan juga mampu berkembang dan maju dalam hal ekonomi.

Efi, selain memiliki bisnis minuman, ia juga memiliki bisnis transportasi. Sejak usia muda ia dikenal jago dalam berbisnis, jeli melihat peluang dan cerdas dalam melihat trend. “Harus percaya diri. Apapun usahamu, mau kecil mau besar yang penting tidak malu dan mau belajar,” ujar dia.

Peragainya yang sederhana, mampu membawa usahanya berkambang dalam tempo yang cukup singkat. Berbagai kursus singkat terkait usaha ia ikuti, banyak mendengar kisah sukses para perempuan dunia menjadi salah satu kesukaannya. 

Tokoh menginspirasi, terutama perempuan yang mambawa perubahan membuat makin termotivasi untuk lebih  banyak belajar dan berbagai ilmu yang sudah ia dapat. 

Ini juga menjawab keraguan banyak pihak bahwa bisnis warkop bukan untuk perempuan.

“Di luar sana masih banyak yang beranggapan, bahwa kaum kita tak mampu. Padahal sebaliknya ini bagi saya tantangan dalam menjawab itu,” kata dia tegas.

Efi Lee, Pemilik Warkop 7odo

Bisnis warkop adalah bisnis menjanjikan di Kota Pontianak yang minim aset alam. Hanya mengandalkan cita rasa dan pelayanan prima dan kegigihan, usaha serupa akan cepat melesat.

Khusus untuk usaha warkop, perempuan yang pernah merantau ke Jakarta itu sangat tertarik. Menurutnya, interaksi yang didapat dalam usaha tersebut sangat luas karena bisa bertemu siapa saja dengan berbagai tipe dan isi kepala.

“Itu jatohnya aku sendiri yang cewek. Cara mengelolanya beda kayaknya antara perempuan dan laki-laki,” tutur Efi.

Ia  menjelaskan perbedaan antara pengelola perempuan dan laki-laki terletak pada hal-hal detail. Perempuan cenderung memperhatikan detail sekecil apa pun, sementara laki-laki lebih cuek dan lebih fokus pada pendapatan. Namun, kata dia, hal itu kembali lagi pada masing-masing pribadi.

Usaha warkop umumnya dikelola kaum pria, jarang ada wanita yang mau terlibat dalam bisnis ini, mengingat risiko diskriminasi hingga pelecehan rentan terjadi. Mungkin sebagian orang menganggap warkop tidak sekeran cafe modern dengan latar dan dekorasi menarik, pilihan kopi lokal dan luar negeri lengkap, tapi warkop menawarkan area tersendiri bagi pengunjung,  terutama dalam mengedepakan suasana ramah, nyaman dan akrab.

Potret Warkop 7odo tampak depan.

Tampilan salah satu menu, kopi susu di Warkop 7odo.

Sebagai seorang pengusaha yang tidak hanya bergerak dalam satu bisnis saja, tantangan kerap ia hadapi. Baik tudingan bahwa ia tidak kompeten hingga omongan miring tentang bisnis yang ia geluti.

Usahanya pun memprioritaskan pekerja perempuan yang membutuhkan pekerjaan tanpa ditanya ijazah dan sejenisnya.

“Tidak perlu pakai ijazah. Kebanyakan yang bekerja di sini mereka yang memang membutuhkan biaya untuk hidup. Tangguhlah mereka, yang penting pegang prinsip dan bertanggungjawab serta tahan banting dalam bekerja karena jam operasional kita sampai malam,” katanya.

Merekrut para pekerjanya yang kebanyakan adalah perempuan salah satu upaya Efi untuk mendidik para perempuan yang bekerja meraih setiap peluang yang ada untuk maju kepada peluang yang lebih terbuka.

“Jika ingin pengalaman bekerja, tidak ada salahnya bekerja. Tidak masalah di mana yang penting bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

Ia memberikan kesempatan bagi semua karyawanya, baik pria dan wanita untuk berkreasi dalam hal kualitas minuman yang disajikan. Efi juga kerap melatih kayawannya cara meracik minuman. Kerap berdialog hingga rapat mengenai hal-hal baru guna memberikan motivasi kepada karyawanya.

“Ini penting agar mereka betah kerja, ” ucapnya.

 Efi Lee dan salah satu karyawannya, Heni. 

Selain itu, yang paling penting kata Efi, ia tak pernah merasa bahwa dirinya bos. Dengan demikian, pendekatan personal pada karyawan atau pada para pelanggan akan berjalan baik.

Efi membagikan beberapa tips untuk para perempuan yang berusaha dan baru mulai atau ingin merintis usaha. Menurutnya, perempuan harus percaya diri yang dibarengi dengan pikiran positif. Tujuan jelas harus menjadi visi dalam setiap usaha, salah satunya membuka lapangan kerja untuk yang membutuhkan, terutama kaum perempuan.

“Kalau misal udah punya usaha, jangan down. Terus aja mikir kalau saya bisa. Perempuan harus bisa berkerja meskipun usahanya itu penuh risiko, seperti bisnis warung kopi ini. Biasanya lebih dikelola para pria tapi, saya percaya diri mampu mengelolanya dan terbukti sekarang,” paparnya.

Baginya, gender tidak menjadi penghalang bagi perempuan terjun ke bisnis warkop yang cenderung mendapat sentimen dan stigma negatif. Apalagi jika perempuan terlibat dalam bisnis ini.

“Salah pengelolaan kesannya pasti negatif. Makanya jangan mudah menyerah.kita sebagai seorang perempuan jangan mau kalah dalam hal pengelolaan. Stigma itu pasti ada tapi lewati saja, jangan takut itu intinya,” ujarnya.

Seperti diungkapkan Gebby Vebrianti, salah satu karyawan perempuan di Warkop 7odo. Umurnya baru 17 tahun, irit sekali berbicara tapi memiliki senyum manis memikat. Gebby tumbuh besar di Bekasi, dan masih duduk di kelas 2 SMA.

Di usianya yang relatif muda ini ia membuat pilihan ‘nyambi’ bekerja dan bersekolah. Dengan khas sifat anak mudanya, Ia tertantang untuk mengetahui bagaimana rasanya bekerja. Selain itu, tuturnya, agar lebih mandiri, sambil membantu kakaknya membayar biaya sekolah.

“Tentu kerjaan ini membantu meringankan beban biaya sekolah, sisanya ditabung dan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar gadis remaja ini.

Gebby sudah bekerja sekitar lima bulan di Warkop 7odo. Menurutnya, jika tidak bekerja pun tidak masalah. 

Pasalnya, memilih sekolah sambil bekerja memang keinginan dirinya sendiri agar tidak merepotkan orang tua dan merasa lebih bebas jika ingin membeli keperluan pribadi dengan uang yang dihasilkan sendiri.

Gebby, karyawan Warkop 7odo yang masih sekolah, asal Ambawang.

Meski masih belia, Gebby mengatakan tak terbebani sekolah sambil bekerja. Namun untuk rencana ke depan, ia masih meraba-raba. 

Gebby pun mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menghiraukan omongan orang lain yang masih menstigma negatif para pekerja di warkop. Walaupun masih banyak variasi pekerjaan di tempat lain, Gebby mengaku nyaman bekerja di Warkop 7odo. Sebab, kata dia, mendapatkan pekerjaan jika masih sekolah sangat susah.

“Merasa nyaman bekerja dengan bos perempuan. Kerjanya juga nggak gimana-gimana. Walaupun banyak yang meragukan bahkan meremehkan kerja di warkop tapi selama kita lurus, yaa santai aja, apalagi pemilik sangat baik,” tuturnya.

Nurhaini, pekerja perempuan yang lain berpendapat sama. Gadis asal Anjungan, Kabupaten Mempawah mengaku sudah bekerja sekitar tiga tahun di Warkop 7odo. 

Sudah nyaman, begitulah alasannya saat ditanya mengapa bertahan selama bertahun-tahun.
Sama seperti Gebby, Heni pun memilih tak menanggapi pandangan negatif orang-orang di kampung halamannya tentang lingkungan bekerjanya sekarang. 

Impian mereka sangat sederhana. Berharap apa yang mereka lakukan bisa meningkatkan kepercayaan diri saat berinteraksi dengan banyak pihak, mandiri dan menjadi perempuan yang mampu menjawab tantangan zaman. 

Share:

Peluang Produk Lokal, Mandirikan Perempuan Sekitar

 

BUAT AMPLANG - Nurhayani (kerudung merah) bersama Nurhayati (kerudung ungu) bersama-sama membuat kerupuk amplang 

Tak banyak sosok perempuan desa yang ingin membuat perubahan, meskipun perubahan tersebut sedikit. Namun,  membawa dampak baik bagi lingkungan sekitarnya. Seperti yang dilakukan Nurhayati, perempuan berusia lebih dari setengah abad ini terus memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Oleh: Nova Sari

Namanya Nurhayani. Ia berusia 56 tahun. Meskipun tak lagi muda, tapi ia masih terlihat energik, senyum lembutnya menyapa saat menyambangi rumahnya di Desa Ampera Raya, Kecamatan Sungai Ambawang, kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Sebagai orangtua tunggal ia dikenal sebagai perempuan pantang menyerah, ulet dan tak pelit berbagi ilmu. Tak jarang, ia memberikan mengajarkan keterampilan bagi perempuan didesanya. 

Bekerja sebagai pengajar di PKBM Mitra Sehati juga mengembangkan usaha khas lokal Amplang sejak 2009, tepatnya 12 tahun lalu. Amplang adalah jajanan jenis kerupuk yang diolah dari bahan dasar ikan dan tepung.

Menjadi janda pukulan berat baginya, terlebih dengan tiga anak yang harus diasuh tanpa pekerjaan maupun peninggalan sang suami membuat kehidupan Nurhayani makin sulit. Ia pun dituntut untuk makin bekerja keras. Berbagai profesi ia lakoni sebelum akhirnya bersungguh-sungguh menggeluti usaha Amplang ini.

Berbagai cara dilakukan Nurhayani dalam menjalankan usahanya tersebut, terlebih waktu diawal-awal membangun usaha, meminta sumbangan, kemudian membuat proposal untuk mengembangkan usahanya itu juga pernah ia lakukan. Akan tetapi hasil yang peroleh tidak sesuai harapannya,
namun tekat dan semangat yang tinggi dengan modal seadanya membuat Nurhayani bangkit.

Hari ini siapa yang tidak kenal Amplang ‘Bu Nur’ di Kota Pontianak dan sekitarnya. Usaha rumahan yang juga menghasilakan omset yang lumayan. 

Tak hanya itu, berkat usahanya yang cukup sukses ini ia pun merekrut para Ibu rumah tangga yang datang kepadanya meminta pekerjaan.

Kini kesuksesannya itu ia bagi dan melatih banyak perempuan, terutama ibu rumah tangga yang ingin membuka asaha Amplang. Bahkan, ia merekrut para ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan. Ia pun tidak mematok harus memiliki keahlian khusus bagi setiap karyawannya tapi
harus jujur dan gigih dan mau belajar.

Tak ayal, ia kerap memberikan pelatihan bagi karyawannya maupun para ibu rumah tangga yang ingin membuat usaha serupa. Dari binaan inilah, Ia dan beberapa perempuan ikut bergabung dalam memproduksi pembuatan kerupuk Amplang.

“Saya berikan pembinaan, saya ajarkan bagaimana cara membuat, bahan-bahan yang harus disiapkan, kita saling berbagi, ada bagian yang mengadon bahan, memotong-motong, menggoreng, packing hingga yang memasarkan kami ada bagiannya, tapi untuk penjualan memang siapa saja semua yang membantu boleh menjual,” kata Nurhayani.

Tak hanya itu, melihat masih banyak anak-anak di sekelilingnya yang putus sekolah, ia mengusulkan program di PKBM untuk kegiatan yang membina anak-anak putus sekolah mengakselerasi minat dan bakat, yang ia buka dikediamannya.

“Kita latih anak-anak dengan progam yang ada, terutama minta berwiraswasta. Kita ajarkan sejak dini. Untuk para ibunya, kita ajarkan cara membuat jajanan lokal kita. Para perempuan juga kita berikan kiat-kiat bisnis bagaimana, sehingga tahu pemasaran dan harus dijual seperti apa,” ujarnya.

Dari program  tersebut, banyak perempuan desanya yang memilih bergabung dengan usaha Amplang miliknya. Ia yakin, dengan merekrut para ibu rumah tangga, kualitas hidup warga desanya akan semakin baik. Karena, di tempatnya tidak hanya bekerja tapi juga belajar menjadi lebih baik dalam pengelolaan keuangan dan kemandirian dalam keluarga. 
“Saya ingin baik anak-anak maupun perempuan bisa maju,” ucapnya.





Dalam menjalankan usahanya, optimis dan pantang menyerah menjadi motto dalam menjalankan usaha. Mekipun bukan usaha skala besar tapi berkatnyalah banyak perempuan rumah tangga di lingkungan sekitarnya mulai berani terbuka dan lebih mandiri.

Letak Desa Ampera Raya yang cukup jauh dari area pusat kota menjadi salah satu penyebab para wanita di desa tersebut minim pengetahuan dan akses publik sehingga tak heran banyak di antara para ibu rumah tangga tersebut hanya mengandalkan penghasilan suami mereka.

Namun, adanya usaha yang dirintis Nurhayani, para perempuan desa itu setidaknya bisa belajar banyak dari kisah kemandirian yang selama ini belum berani mereka lakukan. 

“Mereka masih takut-takut untuk mandiri, berbicara hingga kita pelan-pelan ajarkan untuk bisa sendiri,” ungkapnya.

Bicara perubahan hidup, ini juga dialami Yati yang sudah merasakan bantuan dan jasa Nurhayani. Sejak beberapa tahun ikut serta membantu usaha Amplang, banya hal sudah ia pelajari, dari mulai tanggung jawab, mandiri dan belajar keterampilan dalam managemen usaha.

Ia awalnya hanya ibu rumah tangga biasa tanpa bekerja, namun, saat dirinya mengikuti kelas belajar usaha yag dibina Nurhayani kondisi ekonomi keluarga memaksakan wanita yang hidup sebatang kara ini sudah ikut bersama Nurhayani sejak tahun 2012 lalu. Lantaran fisiknya yang sudah tidak kuat seperti dulu.

“Saya sudah lama bergabung bersama ibu Nur membuat amplang, tentu pekerjaan saya ini sangat membantu. Apalagi saya yang bisa dibilang sebatang kara, suami meninggal anak tidak ada, cuma ada anak angkat saja,” kata dia.

Untuk upah yang diterima Yati dalam membuat amplang ini, perharinya dia ada ia menerima Rp30.000 dalam setiap pembuatan amplang. Namun upah ini tergantung dari seberapa banyak Amplang yang dibuat. Yati mengaku terbantu dengan adanya pembuatan amplang yang dibuka oleh Nurhayani,
 
“Selain membantu usaha amplang Ibu Nur, bersyukur saya juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah bagi warga yang tidak mampu seperti saya,” ucapnya


Di kondisi pandemi seperti saat ini dikatakan Nurhayani, tentu berdampak pada penjualannya, namun begitu usaha kerupuk amplang ini masih terus berlanjut.

Usaha mikro menegah memang merupakan lahan keuntungan yang menjanjikan. Data Dinas Koperasi dan UMKM Kalbar, mencatat ada sekitar 42.000 UMKM di Kalbar. Dari jumlah tersebut, UMKM perempuan mendominasi.

Anggota Parlemen Perempuan Kalbar, Suma Jenny merespons para pelaku UMKM perempuan yang dianggap mampu membawa perubahan ekonomi daerah. 

Perempuan saat ini bisa bebas dalam memilih karirnya, terutama bagus yang ingin berbisnis, baik usaha kecil maupun menengah. Saat ini, perempuan dituntut mandiri dan kreatif,  terutama perempuan dalam
rumah tangga.

Kata dia, pola pikir para perempuan sudah mulai terbuka dengan memafaatkan banyak peluang yang ada.

“Jangan takut memulai, harus berani. Jika perempuan tidak memiliki pikir ke depan akan susah untuk menghadapi era persaingan hidup,” ujarnya.

Untuk mempermudah usaha kecil menengah, pihaknya membuat berbagai kebijakan dan rencana untuk membantu para perempuan yang ingin membuka usaha. (nov)

Share:

Membatik dengan Hati, Priska Ajak Perempuan Percaya Diri dan Mandiri

 

HOBI: Priska Yeniriatno saat ditemui di bengkel seninya di Pontianak. Membatik adalah hobi yang bisa dilakukannya tanpa beban dan menjernihkan pikirannya. PONTIANAK POST/SYAHRIANI


Membatik sudah menjadi hobi Priska Yeniriatno sejak duduk di bangku kuliah. Berbekal ilmu membatik yang diperoleh saat di Yogyakarta, Priska mengembangkan kampung wisata batik di kota kelahirannya, Singkawang. Saat ini ia telah memiliki tiga kampung wisata batik di tiga penjuru kota dan telah membina puluhan perempuan menjadi pembatik.

Oleh: Syahriani Siregar

Terletak di tiga penjuru Kota Singkawang, yaitu Singkawang Barat, Singkawang Timur dan Singkawang Selatan, kampung wisata batik menjadi destinasi wisata baru Kota Singkawang. Di mana wisatawan bisa berkunjung melihat proses produksi batik, membelinya untuk oleh-oleh dan mengikuti workshop membatik. 

Kampung wisata batik membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Sejatinya sebagai fasilitas tempat, ilmu, pencarian dana dan event bagi masyarakat yang ingin membatik.

Berdiri pada 1 Agustus 2019. Di dua bulan pertamanya kampung wisata batik sudah menghasilkan 79 kain, memiliki puluhan pembatik dan telah mengadakan edukasi batik melalui pementasan teater pada Oktober 2019. 

Sebagian besar karyanya adalah batik tulis dengan motif yang bertema etnik. Ada juga batik cap. Tentunya banyak memuat motif suku-suku besar di Kalimantan Barat seperti Dayak, Melayu dan Tionghoa. Ada pula corak yang ia bikin sendiri, biasanya terinspirasi dari kehidupan sosial masyarakat atau budaya lokal. Priska juga kerap menggambar tema tumbuhan dan hewan lokal.

Menjadi seorang misionaris batik adalah keinginan Priska. Baginya misionaris batik bukan hanya memperkenalkan batik tetapi juga memperkenalkan adab Kalbar lewat motif yang dituangkan pada kain. Apa yang telah digapainya sekarang memiliki jalan panjang yang berliku dan masih harus terus diperjuangkan. Ia telah mengalami jatuh bangun berkali-kali. 

Priska dilahirkan dari latar belakang keluarga pendidik, Bapak dan ibunya adalah seorang guru yang merupakan pegawai negeri sipil. Lulus SMA, Priska justru ingin melanjutkan ke sekolah seni. Tapi sayang, orang tuanya tidak mengizinkan.

“Orang tua saya berpendapat kalau perempuan lebih aman bekerja kantoran atau menjadi PNS. Masa depan lebih terjamin ketimbang menjadi seniman,” ujar perempuan kelahiran Singkawang, 23 Januari 1988 ini.

Akhirnya Priska memilih jurusan ekonomi. Sewaktu kuliah di Jogja, perempuan 33 tahun ini justru belajar membatik untuk mengisi waktu senggangnya. Saat itu ia masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di tahun 2010. Ia belajar bersama seorang seniman yang merupakan kerabat ayahnya. Di Jogja, Priska diajarkan tentang ‘rasa’, metode pembelajaran klasik sangat dirasakan Priska bersama Eyang yang berdarah Jawa.

Lulus kuliah tahun 2011, ia pulang ke kampung halaman dengan mengantongi ijazah Sarjana Ekonomi. Bertujuan memanfaatkan ijazahnya tersebut, lulusan ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini menjadi karyawan sebagai staf akunting di satu di antara perusahaan swasta di Kota Amoi tersebut, sambil menjalankan toko baju yang telah ia dirikan sejak 2008 silam.

Dua tahun menjalani kerja kantoran, Priska merasa tak sanggup. Ia memiliki banyak uang namun tak merasa bahagia, tak punya banyak waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Ia pun sempat masuk rumah sakit tiga kali karena kelelahan dan banyak pikiran. 

Merasa bukan passion-nya, tahun 2013 Priska mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Namun sayang, pada tahun yang sama, ia juga harus menutup tokonya karena terbengkalai, usahanya tersebut bangkrut.

Priska coba menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya. Ia berpikir, apa yang akan dilakukan dengan materi yang tersisa? Nekat, ia memutuskan untuk membeli rumah. Dengan modal dari tabungannya dan sedikit pinjaman dari orang tua, Priska membeli rumah kosong yang terletak di Cisadane, Singkawang Barat. 

Berbekal rumah kosong dan hobi membatik, ia membuka rumah batik. Letaknya strategis, di jantung kota dan dekat dengan kawasan mall. Rumah inilah yang kemudian menjadi markas kampung wisata batik pertamanya.

“Awalnya saya buka rumah batik dan spa. Membatik hanya untuk kesenangan sendiri saja. Ternyata makin lama makin ramai orang tertarik. Bukan ke spa tapi justru lihat pembatikan, mulai banyak yang minta kursus membatik juga. Akhirnya spa saya tutup dan fokus pada pembatikan,” kenang Priska.

Tahun 2014, Priska memperoleh kesempatan untuk membina 28 orang ibu-ibu rumah tangga yang ada di pinggiran Kota Singkawang. Sebelumnya, ibu-ibu tersebut membantu suaminya mencari nafkah dengan mengambil upahan panen ladang. Dalam masa empat bulan Priska membina ibu-ibu tersebut dengan bantuan dana dari Kementerian.

“Ternyata dari sana saya sadar, bahwa hobi yang sangat menyenangkan dan sangat mudah buat saya ini tidak berlaku untuk orang lain. Dari 28 orang yang saya bina sampai masa 4 bulan hanya bertahan 8 orang saja yang menyelesaikan program belajar membatik,” jelas Priska.

Tapi dari pembinaan tersebut Priska menjadi tidak sendirian. Di tahun tersebut ia menemukan teman-teman yang tertarik pada batik, menjadi satu visi dan misi untuk membangun rumah batik menjadi galeri workshop yang sekarang diberi nama Galeri Workshop Kote Singkawang. Namun, lagi-lagi jalan yang harus ditempuh masih berliku.

MEMBATIK: Rosvanty Erlin (kaos merah) dan beberapa pembatik perempuan sedang membatik di kampung wisata batik penjuru timur Singkawang. DOK/IST


MEMBATIK: Rosvanty Erlin (kaos merah) dan beberapa pembatik perempuan sedang membatik di kampung wisata batit penjuru timur Singkawang. DOK/IST




Pada tahun 2015, setahun berproses Galeri Workshop Kote Singkawang ternyata belum berjalan dengan baik seperti yang diharapkan, keluar masuknya teman-teman yang ikut berproses menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi Priska.

“Yang paling berat adalah mengubah mindset mereka, kebanyakan mereka berpikir ‘aduh, barang seperti ini mampu laku berapa sih?’, ‘terus jualnya mau kemana ya, kan barang mahal?’ Pemikiran seperti itulah yang terus menerus perlu saya luruskan ke masyarakat setempat agar percaya diri dan mandiri,” ungkapnya.

Galeri Workshop Kote Singkawang terus mengembangkan diri, hingga akhirnya ia mendapatkan tim yang solid. 

“Yang kami berdayakan adalah pengangguran, anak muda putus sekolah dan orang-orang yang terdiskriminasi karena social punishment setelah keluar dari penjara, dan juga ibu-ibu rumah tangga yang ikut membantu suami mencari nafkah,” imbuhnya. 

Hingga pada tahun 2019 ia menjawab tantangan dari pihak sponsor untuk membangun kampung wisata batik. Dengan kesempatan itu, ia membangun kampung wisata batik di tiga penjuru kota dengan nama ‘Kampung Wisata Ragam Corak Singkawang Tiga Penjuru’. 

Galeri Workshop Kote Singkawang di Cisadane yang berada di penjuru barat jadi markas pertama, kemudian ia memilih Nyarumkop di penjuru timur serta Sedau di penjuru selatan.

Semakin terkenal, workshop membatik yang dilakukan membuat mereka percaya diri dan bersemangat. Kunjungan demi kunjungan wisatawan yang ingin belajar membatik dan membeli batik datang dari berbagai daerah. Kunjungan dari Pertukaran Pelajar Antar Negara, dari berbagai kampus yang ada di wilayah Kalbar, kunjungan sekolah-sekolah, kunjungan Ibu-ibu PKK, kunjungan dari berbagai instansi dan perusahaan-perusahaan yang melakukan gathering menyempatkan diri untuk workshop membatik. 

“Bahkan ada kunjungan dari para wisatawan mancanegara yang melihat kami dari akun Facebook (Taiwan, Thailand, Prancis). Kunjungan tidak hanya pada Galeri Workshop Kote Singkawang tetapi juga pada tiga wilayah kampung batik yang kami bangun,” ungkapnya.

JEMUR: Proses penjemuran kain batik. DOK/IST



KARYA: Beberapa hasil karya para pembatik kampung wisata batik di tiga penjuru.
Kain ini sudah laris manis terjual semuanya. DOK/IST



Seakan dibukakan jalan, bersama tim ia bisa meraih beberapa prestasi dan mengikuti beberapa pameran baik dalam kota, luar kota bahkan luar negeri. 

Pameran menjadi salah satu targetnya untuk mempromosikan batik bersama produk lainnya. Dari awal berproses hingga kini, berbagai pameran dan ribuan kain batik telah dihasilkan oleh Priska dan teman-teman. 

Priska merasa bahagia sekaligus terharu atas apa yang telah diperolehnya saat ini. Hobi yang dilakukannya tanpa beban dan diyakininya bisa menjadi ruang meditasi untuk dirinya berpikir jernih ternyata bisa menjadi manfaat untuk orang-orang di sekitarnya. 

“Saya mencoba membuka rumah batik awalnya tidak dengan harapan yang muluk-muluk. Saya hanya ingin bisa mengenalkan, mengajarkan membatik dan berbagi cerita tentang batik. Ternyata semua itu menjadi candu dan membawa rezeki yang lebih tidak hanya buat saya sendiri tetapi mampu memandirikan saya dan orang di sekitar saya,” ujar perempuan berdarah Jawa ini.


KUMPUL: Priska dan timnya biasa berkumpul di waktu senggang. Kekompakan dan rasa kekeluargaan sangat diutamakan mereka. DOK/IST

Tambah Penghasilan

Wahyu Sri Nurhani, 36 tahun, ia merupakan satu dari 28 ibu-ibu yang mengikuti pelatihan membatik oleh Priska pada tahun 2014. Diakui Wahyu, sejak bisa membatik, ekonomi keluarganya turut terbantu. Ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak ini dulu hanya bisa berladang, kini ia bisa membantu suaminya mencari nafkah.

“Merasa bersyukur karena dapat menambah penghasilan keluarga, sebelumnya hanya bergantung dari hasil upah suami yang menjadi buruh peternak ayam,” ujar Wahyu yang berada di kampung wisata batik penjuru selatan.

Semenjak ada kampung wisata batik tahun 2019, Wahyu semakin banyak mendapat pesanan batik tulis. Wahyu mengambil bagian dalam proses pencantingan. Dalam satu hari ia bisa menyelesaikan satu kain dengan panjang dua meter, sehingga tujuh kain batik dapat diselesaikannya dalam seminggu. 

“Per kain saya bisa mendapatkan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Biasanya  setiap hari ada pemesanan dan pengerjaan. Namun semenjak pandemi pemesanan sedikit menurun, seminggu hanya 2-3 kain saja. Pesanan banyak saat adanya event pameran, sementara pameran belum bisa dilakukan sekarang ini. Semoga pandemi segera berlalu,” ujar Wahyu.

Walau pemesanan sedikit berkurang karena pandemi, Rosvanty Erlin juga merasa sangat terbantu semenjak bergabung dengan kampung wisata batik penjuru timur. 

Perempuan 37 tahun ini bisa menambah penghasilan sehari-hari dan biaya anak sekolah dari kemampuannya membatik.

Ibu tiga anak ini berharap semoga bisa terus berkarya dan berkembang lebih baik ke depannya. “Semoga semua pihak mendukung kegiatan kami. Senang bisa menjadi bagian dari kampung wisata batik yang sangat memotivasi, saling mendukung dan kompak,” tutur Rosvanty.**











Share:

Dorong Perempuan jadi Agen Perdamaian

PONTIANAK - Potensi dalam diri perempuan mempunyai kesinambungan dalam membumikan nilai- nilai kasih sayang dan kemanusiaan. Maka, perempuan sangat strategis perannya untuk berkontribusi aktif menciptakan perdamaian. Hal inilah yang kemudian dibahas dalam Webinar Pontianak Rumah Bersama ‘Perempuan Sebagai Agen Perdamaian’, yang digelar oleh Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) dengan dukungan Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), Senin (22/2/2021).

Ketua Aliansi Perempuan Kalimantan untuk Perdamaian Dan Keadilan Gender (Alpekaje), Norberta Yati, mengawali pertemuan dengan menceritakan keterlibatan perempuan dalam ikhtiar-ikhtiar perdamaian sebuah konflik, hingga aliansi yang ia pimpin itu lahir.  Menurutnya, keterlibatan perempuan amat minim dalam upaya perdamaian, padahal Kalimantan sempat mengahdapi banyak konflik suku dan antar golongan.

“Perempuan kurang terlibat dalam upaya perdamaian pada masa itu (konflik, red),” ungkapnya.

Singkat cerita, pada tahun 2009, digelar Kongres Perempuan yang terwujud berkat kehadiran 300 perempuan yang berasal dari Kalbar, Kaltim, dan Kalteng. Dari kongres ini, terbentuklah Alpekaje. Melalui wadah itu, sejumlah program berjalan, terutama yang bertujuan membangun pendidikan perdamaian bagi perempuan. Program ini menyasar kalangan akar rumput hingga aktivis, guna menggali potensi perempuan untuk membangun perdamaian.

“Perempuan sebenarnya sudah dititipkan tanggung jawab untuk itu (agen perdamaian, red),” ucapnya.

Alpekaje sempat vakum, namun kemudian aktif kembali setelah resmi berbadan hukum pada tahun 2018. Sejak itu pula, organisasi ini mulai melanjutkan kembali tugasnya, melalui program-program pendidikan perdamaian yang kini diintegrasikan dengan kepemimpinan perempuan. Lewat program ini, Alpekaje berusaha menciptakan agen-agen perdamaian dan perubahan ditingkat akar rumput.

Namun dalam mewujudkan peran perempuan sebagai agen pedamaian itu, menurutnya ada banyak tantangan, terutama perempuan yang kerap mendapatkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender itu, diantaranya marginalisasi terhadap perempuan, beban ganda, kekerasan, dinomorduakan, hingga pelabelan negatif terhadap perempuan. Nah, dalam kondisi ini, bagaimana mungkin perempuan bisa menjadi agen perdamaian ketika kondisi ketidakadilan gender itu masih terjadi?

“Maka kita perlu membangun kesadaran dalam diri kita, mengubah diri menggunakan sumberdaya, kekuatan, keterampilan dalam struktur dan proses inklusif, demi mewujudkan kesetaraan dan HAM,” jelasnya.

Mita Anggraini, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura, menceritakan pengalamannya ketika menjadi peserta Workshop ‘Diplomasi Peran Serta Perempuan dalam Pemeliharaan Perdamaian dan Keamanan’ yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri. Dalam salah satu sesi workshop tersebut, dirinya menyimpulkan bahwa dalam kondisi konflik perempuan kerap menjadi objek.

“Perempuan itu ketika dalam kondisi perang, akan selalu menjadi korban. Ketika laki-laki (suami, red) pulang dalam keadaan memenangkan peperangan, saat di rumah minta dilayani seperti raja. Namun jika kalah, ia akan melampiaskan kekalahannya pada perempuan. Sehingga baik di posisi menang atau kalah, perempuan selalu menjadi korban,” cerita dia.

Soal kepemimpinan, menurutnya masih ada yang menganggap perempuan tidak mampu, tersebab pelabelan negatif yang disematkan, seperti perempuan dianggap lemah, baperan, tidak bisa objektif, dan lain label negatif lainnya. Pengalaman tersebut ia rasakan sendiri karena ia menjabat posisi sebagai ketua di salah satu UKM di kempusnya. Stigma buruk terhadap kepemimpinan perempuan diakuinya masih ditemukan. 

Karena itulah, dia menilai perempuan harus membuktikan diri mampu menempati posisi strategis. Dengan posisi yang strategis itu pula, maka mereka bisa mengakomodir kepentingan perempuan.

Dosen IAIN Pontianak, Ria Taqwa menilai, sebelum mengatasi konflik dan mewujudkan perdamaian, maka seorang perempuan mampu harus mengenal dirinya. Bahwa, secara naluriah perempuan lebih cenderung dekat pada nilai kemanusiaan dan perdamaian.

“Substansinya adalah pada diri kita, diri kita ini mau berdamai atau tidak. Diri kita ini mau menyelesaikan konflik atau tidak. Setelah itu selesai, barulah kita baru bisa menyelesaikan konflik di luar,” tuturnya.

Direktur Lembaga Gemawan, Laili Khairnur, menilai ada banyak contoh-contoh perempuan yang mampu menjadi agen perdamaian. Itu karena sifat-sifat feminim yang ada lebih besar pada diri perempuan. Sifat feminim, antara lain yakni kepedulian, mudah memaafkan, kasih sayang, dan kemanusiaan, yang lebih cenderung membuat perempuan lebih mudah tergerak untuk mewujudkan perdamaian. Meski begitu, sifat feminim itu juga ada pada dalam diri laki-laki.

“Sifat feminim itu bisa dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Tetapi dalam realitanya lebih banyak dimiliki perempuan. Itulah yang kemudian bisa dijadikan potensi perempuan sebagai agen perdamaian,” tuturnya.

Kegiatan ini dikutip oleh puluhan peserta dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, perwakilan organisasi perempuan, hingga wartawan. Tak hanya perempuan, peserta juga datang dari kalangan laki-laki.

Share:

JPK-Velox Kalbar Bantu Warga Terdampak Covid-19


 PONTIANAK - Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) bersama Velox Kalbar menggelar kegiatan pembagian sembako untuk warga terdampak Covid-19. Kegiatan bertajuk 'Mendukung Seluruh Upaya Pemerintah Dalam Penanggulangan Covid-19 dan Menolak Paham Radikalisme' digelar Rabu (20/5)

Satu di antara penerima adalah Samirah (53). Dia yang sehari-harinya berjualan di kantin sekolah SDN 24 Pontianak. "Semenjak Wabah Corona, sekolah diliburkan jadi saya juga tidak berjualan lagi. Padahal untuk sehari-hari mengandalkan hasil berjualan di kantin," ujar ibu dua anak ini.

Dia mengaku sangat bersyukur mendapatkan bantuan paket sembako." Insya Allah ini sangat bermanfaat bagi saya dan keluarga," ucapnya.

Sudiyatun (52), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kawasan Parit Mayor tak bisa menutupi rasa bahagianya mendapatkan bantuan sembako.

Dirinya yang aktif di Perempuan Pemberdayaan Kepala Keluarga (Pekka) ini kesehariannya berjualan kue untuk sumber ekonomi keluarga.

"Saat wabah Corona ini ada, kita pun merasa terpukul dari sisi ekonomi. Tapi tetap berupaya dengan berjualan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Perwakilan Velox Kalbar, Yusuf yang turut hadir memberikan bantuan berharap sembako yang didonasikan ini bisa meringankan beban masyarakat.

"Intinya di situasi seperti sekarang kita harus meningkatkan rasa saling peduli, dan tanggap dengan situasi yang ada.Dengan sumber daya yang ada, harapannya semua elemen juga ikut menanggulangi dampak dari Covid-19 ini," ujarnya.

Velox Kalbar juga sudah melakukan kegiatan serupa di beberapa tempat seperti di Perbatasan Entikong, Sambas, hingga Kubu Raya.

Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) Aseanty Pahlevi mengungkapkan, kegiatan ini lebih kepada membantu warga kurang mampu di tengah pandemi.

Meringankan beban, terutama para perempuan pekerja sekaligus kepala keluarga merupakan salah satu dari upaya JPK untuk berbagi.

Pada hari ini yang menerima bantuan dari berbagai latar. Ada guru ngaji, ada ART, penjual di kantin sekolah, ada pula warga mengalami PHK karena Covid-19.

"Kami juga mengapresiasi upaya Velox Kalbar yang ingin membantu. Karena kesamaan visi ini, maka kita sepakat melakukan kerjasama. Semoga ini bermanfaat," katanya.


Sumber : https://pontianakpost.co.id/jpk-velox-kalbar-bantu-warga-terdampak-covid-19/

Share:

Perempuan Rentan Jadi Korban Kekerasan di Medsos, Founder HCC Borneo Bagi Tips Internet Aman

Tak bisa disangkal, bahwa pengaruh media sosial cukup besar bagi perempuan. Di satu sisi media sosial memang bisa memudahkan hidup kita. Informasi yang serba ada, singkat dan cepat, membantu Anda untuk melek informasi. Namun, terlalu aktif di media sosial juga berbahaya bagi emosi kita. Ini bahayanya jika kita terlalu eksis di media sosial.


Sejak 2015, Komnas Perempuan telah memberikan catatan tentang kekerasan terhadap perempuan yang terkait dengan dunia online, dan menggarisbawahi bahwa kekerasan dan kejahatan siber memiliki pola kasus yang semakin rumit.


Pada 2017, ada 65 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia maya yang diterima oleh Komnas Perempuan. 
Hal ini yang menjadi ulasan utama dalam workshop daring "Cara Aman Perempuan Bermedia Sosial" yang digagas PPMN yang menggandeng Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Senin (18/5/2020).  


Founder Hoax Crisis Center (HCC) Borneo, Reinardo Sinaga, menyebutkan menurut riset yang dilakukan oleh firma kemanan digital, Norton, 76% dari 1.000 responden wanita yang berusia dibawah 30 tahun pernah mengalami pelecehan seksual secara online atau Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).


"Di antaranya, ajakan chat yang menggoda dan mengganggu di beberapa platform media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, BBM, dan lainnya," ujarnya.


Aktivitas kekerasan berbasis Gender Online yang kerap terjadi adalah seperti pelanggaran privasi. Yang dilakukan dengan mengakses, menggunakan, memanipulasi dan menyebarkan data pribadi, foto atau video, serta informasi dan konten pribadi tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan.


Sumber : https://pontianak.tribunnews.com/2020/05/20/perempuan-rentan-jadi-korban-kekerasan-di-medsos-founder-hcc-borneo-bagi-tips-internet-aman


Share:

Dorong Penguatan Isu Perempuan di Media

PONTIANAK– Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Aseanty Widaningsih Pahlevi melihat hingga saat ini, masih ada pihak yang menilai perempuan tergolong makhluk lemah, dan tidak mandiri, sehingga membuat masih banyak pihak yang menganggap perempuan diidentifikasi pada ranah atau pekerjaan rumah tangga saja.

Sementara, pada posisi berbeda lanjutnya, hierarki gender menempatkan laki-laki sebagai gender perkasa, selalu menang, bertanggung jawab. “Kontruksi gender dalam konteks patriarki membuat masih perempuan sulit untuk mengubah “takdirnya”,” katanya saat menjadi pemateri pada Workshop Perempuan dan Media, Jumat (14/2) di sekretariat Jurnalis Perempuan Khatulistiwa.

Menurutnya, stereotip yang melekat pada perempuan dan hierarki gender akhirnya menimbulkan persoalan baru yang terjadi pada masyarakat, sehingga melestarikan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan industri media.

“Isu perempuan sudah menjadi isu global, bagaimana seharusnya hal ini mendapat perhatian penting, tugas jurnalis adalah harus bisa mengemas isu ini menjadi isu populer,” jelasnya.


Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura, Leo Prima yang menjadi salah satu narasumber dalam wokrshop tersebut mengatakan perspektif media terkait isu-isu perempuan cenderung mengedepankan tentang kekerasan serta sering terjadi kesenjangan.


“Fungsi media massa adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat, namun perempuan cenderung masih digunakan sebagai objek dalam media,” katanya.


Menurutnya, paradigma media masih menganggap isu terkait laki-laki masih penting. Padahal kata dia, kaum perempuan justru lebih banyak isu yang bisa diangkat.


“Sebanyak 60 persen pengguna media sosial adalah perempuan. Mereka mengakses sosmed secara implusif maupun kompulsif. Makanya saya menilai peran seharusnya isu-isu yang berkaitan dengan perempuan juga bisa didorong lebih baik lagi di media,” terangya.


Koordinator Workshop Perempuan dan Peran Media, Wati Susilawati, menambahkan, saat ini isu perempuan memang sangat penting untuk diangkat.


“Kami ingin membangun sinergitas dengan para aktivis dan media, sehingga dapat memberikan peran strategis dalam memberikan perubahan kepada masyarakat tentang perempuan,” ucap Wati.


Wati berharap, media memiliki kekuatan untuk melanggengkan beragam pandangan dan berupaya mendorong media agar menjadi lebih berkualitas dan sensitif gender, terutama perempuan.


Kata dia, saat ini media masih mengutamakan pemberitaan sensasional. “Makanya kami berharap engan adanya workshop ini media dianggap menjadi alat yang efektif untuk menyuarakan persoalan gender dan perlindungan perempuan,” pungkasnya. 



Sumber : https://pontianakpost.co.id/dorong-penguatan-isu-perempuan-di-media/


Share:

Kepemimpinan Perempuan adalah Kepemimpinan Berorientasi Pemberdayaan


Tidak harus memegang jabatan formal agar perempuan layak dikatakan sebagai seorang pemimpin. Karena sejatinya kepemimpinan perempuan adalah kepemimpinan pemberdayaan. Begitulah secara umum pesan yang dihasilkan dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Perempuan Dalam Kepemimpinan, Sabtu (25/1).


Direktur Lembaga Gemawan, Laili Khairnur, beberapa kali menekankan tentang kepemimpinan perempuan yang berorientasi pada pemberdayaan. Menurutnya, kepemimpinan perempuan tidak hanya dilihat dari sisi elitis semata misalnya sekelas pejabat publik, anggota dewan atau pemimpin perusahaan, badan publik lainnya.


“Namun yang diprioritaskan saat ini adalah kepemimpinan yang berorientasi pada pemberdayaan misal yang dilakukan oleh kader atau local leader, Community Organizer maupun istilah lain yang digunakan di level grass root,”ungkap dia.


Menurutnya ada banyak contoh gerakan yang diinisiasi oleh para kaum wanita sehingga memberikan perubahan yang positif. Contohnya, kata dia, yakni gerakan Mother of Plaza de Mayo, sebuah perjuangan oleh sekelompok wanita pembela HAM di Argentina pada tahun 1977, yang mana mereka menuntut kejelasan nasib anak-anak mereka yang ditangkap selama pemerintahan militer. Selain itu, ada pula Gerakan perempuan Dalit untuk 5 hektare lahan di India.


“Bahkan pada tataran lokal juga banyak gerakan-gerakan atau serikat-serikat yang diinisiasi oleh perempuan,” kata dia.


Potensi dan peran kepemimpinan perempuan dinilainya sangat besar untuk saat ini dan masa mendatang di dalam seluruh bidang. Secara umum kepemimpinan perempuan berbeda dengan kepemimpinan laki-laki.  Adapun ciri kepemimpinan perempuan adalah kooperatif, berorientasi pada kesejahteraan, dan cenderung kolektif atau partisipatif. Sementara model kepemimpinan normatif laki-laki yang cenderung kompetitif, berorientasi pada kekuasaan dan terpusat.


“Perempuan cenderung memakai kepemimpinan transformasi, memotivasi orang lain dengan mentransformasi minat diri mereka menjadi tujuan organisasi. Sementara laki-laki cenderung memakai gaya yang langsung, serta perintah-dan-kendali. Laki-laki mengandalkan otoritas posisi resmi untuk berpengaruh,” jelas dia.


Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur PPSW Borneo, Reny Hidjazie. Katanya, kepemimpinan bagi seorang perempuan tidak hanya terletak pada posisi formal yang dicapai. Menurutnya, ada banyak posisi-posisi informal yang dapat dimaksimalkan oleh perempuan agar dapat berdaya. Sehingga siapa saja yang mampu menggerakkan atau memotivasi sejumlah orang agar secara serentak melakukan kegiatan untuk satu tujuan, boleh dikatakan sebagai pemimpin.


“Jadi yang perlu kita ingat adalah, kepemimpinan bukan terletak pada posisi atau tempat formal,” kata dia.


Anggota DPRD Kota Pontianak, Beby Nailufa, menilai untuk mengoptimalkan peran serta perempuan, serta membina jiwa kepemimpinanya, harus dimulai dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas perempuan. Karena itu, pihaknya terus mendorong pemerintah supaya memberikan perhatian penuh pada pembangunan manusia, terutama bagi ibu dan anak.


“Dalam hal pemberdayaan perempuan, kami terus ingat pemerintah supaya tidak hanya sekedar membangun fisik, tapi juga non fisik,” kata dia.


Dia melanjutkan, jumlah perempuan yang duduk di DPRD Kota Pontianak saat ini, dinilainya juga masih minim. Sedikit banyak hal ini dinilai menjadi tantangan baginya saat akan mengusulkan kebijakan yang bersinggungan dengan perempuan. Selain tentu saja meminta dukungan dari sesama anggota legislatif perempuan, untuk memenangkan argumennya, ia tak segan untuk melakukan lobi dengan anggota legislatif lain agar mendukung kebijakan yang pro dengan kesejahteraan perempuan.


“Kadang saya juga harus melakukan lobi ke sesama anggota dewan lain yang lain. Karena nanti pada saat kita berargumen, kalau tidak ada yang mem-backup, itu agak sulit,” pungkas dia.


FGD tersebut digelar atas kerjasama antara Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), dan Citradaya Nita. Dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis perempuan, influencer, youtuber, hingga jurnalis, diskusi ini bertujuan untuk membuka wawasan peserta dalam hal kepemimpinan perempuan. 


sumber : https://pontianakpost.co.id/kepemimpinan-perempuan-adalah-kepemimpinan-berorientasi-pemberdayaan/

Share: