JPK On Air : Internet Sehat dan Cegah Kekerasan

Jurnalis Perempuan Khatulsitiwa (JPK) menjadi narasumber dalam program Shobahul Khiar di Radio Mujahidin 105,8 FM. Talkshow dengan tema cegah kekerasan dan berinternet sehat ini bertujuan mengedukasi masyarakat terutama kalangan pelajar dan anak-anak agar bisa lebih bijak dalam menggunakan internet dan bermedia sosial. 

Selama ini JPK melihat cukup banyak orang yang memposting beragam berita atau informasi yang belum diketahui kebenarannya, bahkan berita hoax pun tak jarang menjadi viral akibat ulah oknum tak bertanggung jawab yang langsung men-share informasi yang didapat. Selain itu medsos menjadi sarana untuk membuli bahkan menjadi ajang untuk melakukan kekerasan seksual. Diharapkan melalui talkshow secara on air, bisa meningkatkan pemahaman bagi masyarakat luas, agar lebih bijak dalam menggunakan Internet termasuk bermedia sosial sehingga bisa menyaring semua informasi yang didapat untuk dilakukan pengecekan ulang untuk memastikan kebenaran info yang didapat.
Share:

Siaran Pers Komnas Perempuan



Alarm bagi Negara dan Kita Semua: Hentikan Femicide (Pembunuhan terhadap
Perempuan)
Jakarta, 13 November 2017


Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) turut berduka dan mengutuk keras kasus-kasus pembunuhan terhadap perempuan yang semakin menggerus rasa aman kita semua. Kasus dr. L, salah satunya, almarhum telah melapor polisi atas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami, tetapi polisi tidak menahan pelaku dan tidak memberikan perlindungan sementara kepada korban. Padahal UU PKDRT menyebutkan terdapat 10 pasal khusus mengatur tentang perlindungan sementara dan perintah perlindungan untuk korban. Pada review 10 tahun implementasi UU PKDRT yang dilakukan Komnas Perempuan, aspek perlindungan dan keamanan korban inilah yang paling lemah dijalankan.

Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2017 memperkenalkan lebih jauh tentang femicide, pembunuhan perempuan karena dia perempuan. Arti femicide adalah penghilangan nyawa perempuan berhubungan dengan identitas gendernya. Femicide adalah puncak dari KtP (Kekerasan terhadap Perempuan) yang berakhir pada hilangnya nyawa perempuan. Femicide jarang terungkap/dilaporkan karena dianggap korban sudah meninggal. Komnas Perempuan mencatat bahwa femicide minim terlaporkan ke Komnas Perempuan ataupun lembaga layanan, karena dianggap korbannya sudah meninggal, padahal hak asasi seseorang atas martabat, hak kebenaran, hak atas keadilan dan sebagainya, tidak berhenti dengan hilangnya nyawa.

Kasus femicide cenderung hanya dianggap kriminalitas biasa yang ditangani polisi, yang lebih fokus untuk mencari pelaku, minim analisa GBV (Gender Based Violence atau Kekerasan Berbasis Gender) tidak ada diskusi dan kurang perhatian aspek pemulihan korban serta keluarganya. Femicide perlu menjadi perhatian, karena dapat saja terjadi karena tidak dijalankannya fungsi perlindungan korban saat terancam nyawanya, termasuk dalam konteks PKDRT. Femicide terjadi karena kuatnya kuasa patriarki, relasi kuasa antara pelaku dan korban, dan pelaku adalah orang-orang dekat yang dikenal korban.

Pola-pola femicide yang selama ini dianalisa Komnas Perempuan berasal dari data terlaporkan langsung, tertulis, media dan mitra, menunjukkan bahwa femicide dapat disebabkan oleh kekerasan seksual dengan atau berakhir pembunuhan, ketersinggungan maskulinitas seksual laki-laki, kecemburuan, kawin siri yang tidak ingin terbongkar, menghindar tanggungjawab karena menghamili, prostitusi terselubung yang minim pantauan, kekerasan dalam pacaran. Pelaku adalah orang-orang yang dikenal, orang dekat, baik pacar, kawan kencan, suami, pelanggan, dan lainnya. Pola femicide-nya juga sadis dan tidak masuk akal, korban dimasukkan dalam koper, dibuang di bawah jalan tol, terjadi di tempat kost atau hotel dengan kondisi jenazah dihukum secara seksual, dibunuh dalam keadaan hamil, dibuang ke lumpur, jurang dan lainnya.

Komnas Perempuan mencatat 5 kasus pengaduan femicide yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan, kemudian melalui penelusuran kliping di media di tahun 2017 saja, ada sekitar 15 kasus pembunuhan perempuan, termasuk dr. L. Di tahun 2016 kasus-kasus yang mencuat antara lain kasus pembunuhan dan perkosaan berkelompok YY di Bengkulu, kisah korban yang diperkosa lalu dibunuh dengan gagang cangkul menancap di vagina korban, pembunuhan dan kekerasan seksual kepada F anak 9



tahun di Kalideres, Pembunuhan korban yang dibuang dalam kardus di bawah jalan tol, pembunuhan (mutilasi) ibu hamil di Tangerang karena relasi personal janji nikah (eksploitasi seksual).

Pelapor Khusus PBB untuk VAW (Violence Against Women), Dubracka Simonovic, pada tahun 2015, telah menyerukan kepada dunia agar setiap negara membuat femicide watch atau gender related killing of women watch, dan meminta agar data-data tersebut harus diumumkan setiap tanggal 25 November pada Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Data WHO menyebutkan di seluruh dunia 37% pembunuhan perempuan dilakukan oleh intimate partner: suami, pacar, mantan suami, mantan pacar.

Oleh karena itu, melihat banyaknya kasus femicide tersebut, maka sikap dan seruan Komnas Perempuan:

1.    POLRI harus siaga penuh untuk menjaga dan menjamin keamanan pelapor atau perempuan yang terindikasi terancam jiwanya;

2.    Media untuk menghindari viktimisasi pada korban dengan menjaga integritas korban dan keluarganya;

3.    Masyarakat, termasuk keluarga besar, tempat kerja, organisasi, lembaga pendidikan untuk menjadi bagian untuk pencegahan dan perlindungan berbasis komunitas;

4.    Pemerintah untuk menyerukan pendataan yang serius terhadap femicide sebagai acuan agar bisa diambil langkah sistemik untuk pencegahan dan penangannya.

Mari kita semua turut ambil bagian dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan!


Kontak Narasumber:
Mariana Amiruddin, Komisioner (081210331189)
Adriana Veny Aryani, Komisioner (08561090619)
Sri Nurherwati, Komisioner (082210434703)
Yuniyanti Chuzaifah, Komisioner (081311130330)
Saur Tumiur Situmorang, Komisioner (081362113287)
Share:

JPK On KompasTV Pontianak : Kampanye Anti Bullying

Mulai meningkatnya kasus bullying disejumlah daerah pada beberapa waktu terakhir membuat Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) berupaya mengajak semua pihak  untuk lebih peduli dalam mengedukasi masyarakat, khususnya kalangan usia anak-anak dan remaja agar menghindari praktik bullying. Berdasarkan informasi yang dihimpun JPK saat ini angka bulliying sangat tinggi di Indonesia terutama di lingkungan sekolah. 

Melalui Talk show, kampanye termasuk tulisan edukatif terkait anti perudungan disejumlah media massa, tidak hanya membuat kepedulian masyarakat terkait hal ini meningkat namun JPK juga berharap bisa mendorong pemerintah daerah bisa membuat lebih banyak kebijakan yang mampu menekan dan mengatasi kasus bullying. 


Share:

Konsorsium Perempuan Beri Pelatihan Strategic Planning


*Cegah Kebiasaan Habis Program Bubar
Konsorsium Perempuan Untuk Keberlanjutan Penghidupan Kalimantan Barat, menggelar Strategic Planning Kelompok Perempuan di Tingkat Kabupaten Sintang, 19-20 Oktober 2017.  
Program Manager, Sri Ranti menyampaikan dalam sambutannya menyampaikan terimakasih pada para peserta yang merupakan kelompok tani perempuan.
"Sebelumnya kita sudah melaksanakan kegiatan Strategic Planning di Kabupaten Kapuas Hulu. Biasanya habis program semuanya bubar, untuk itu perlu strategi agar tetap berkelanjutan," ungkapnya, Kamis (19/10/2017)
Dia menuturkan peserta kegiatan terdiri dari 21 orang petani perempuan yang merupakan perwakilan kelompok tani dari kelompok Nanga Ruat, Nanga Rambon, Mulya Jaya, Usaha Bersama, Sepinggan,  Melati, Karya Mandiri dan Samak Lestari.
Menurutnya Strategic Planning sebagai satu di antara metode dan cara untuk penguatan kapasitas organisasi rakyat.
Ini merupakan mandat yang diemban oleh Konsorsium Perempuan kepada masyarakat dampingan dengan menyiapkan dan membekali kemampuan kelompok atau organisasi yang sudah terbentuk maupun belum untuk merencanakan visi, misi dan nilai secara strategis. 
"Kegiatan ini akan dilakukan di tingkat masing-masing Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat jaringan 540 orang anggota  dari  21  kelompok perempuan yang telah terbentuk di enam desa di empat kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu dan empat desa di dua Kecamatan di Kabupaten Sintang," paparnya.  
Tujuan kegiatan, kata Sri Ranti, antara lain untuk mendampingi  organisasi rakyat untuk menetapkan isu strategis yang perlu, dan relevan untuk diperjuangkan.
Kemudian juga untuk mendampingi organisasi rakyat agar memiliki alat dan metode pengikat bagi pengurus dan anggota mengenai visi, mandat, mandat serta nilai-nilai yang dianut organisasi. 
"Dan mendampingi organisasi rakyat agar relevan dengan perubahan pengurus dan mampu mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk sistem sosial politik dan ekonomi sesuai dengan visi dan misi oragnisasi," sampainya. 
Pemateri dalam kegiatan Strategic Planing adalah dari Lembaga Gemawan Muhammad Isa dan Direktur PPSW Borneo, Reny Hidjazi. 
Satu di antara peserta, Herlina Dora, mengaku bersyukur mengikuti pelatihan tersebut. Oleh karena lewat pelatihan tersebut anggotanya di Kelompok Melati mendapat tambahan wawasan. "Kita juga memahami kondisi petani perempuan, bagaimana perempuan dapat maju bersama menuju kesejahteraan bersama sebagai petani perempuan," ucap Dora. 
Sekretaris Kelompok Nanga Rambon, Aysa, berharap kedepan perlu adanya pelatihan khusus seperti pelatihan yang diadakan saat ini. Agar dirinya bersama kelompok perempuan lainnya sebagai perempuan dapat memiliki pemahaman dan tahu banyak hal. 
"Seperti pengetahuan bahwa kita sebagai perempuan juga memiliki hak atas kepemilikan lahan yang dikelola selama ini. Mengingat selama ini kondisi yang ada hak kepemilikan tanah atau surat tanah bukan milik sendiri atas nama petani perempuan sebagai pengelola lahan," katanya.
Direktur PPSW Borneo, Reny Hidjasi menyebutkan sebagai petani maka yang harus dimiliki adalah lahan. Namun bila surat dari lahan tersebut milik suami atau atas nama orang lain dengan demikian kategori sebagai petani belum terpenuhi. 
"Khususnya petani perempuan karena tidak dapat disebut petani karena tidak memiliki lahan sendiri. Melainkan petani perempuan hanya sekedar identitas saja," ungkap Reny. 
Di hadapan peserta pelatihan, dia pun menyampaikan tiga peran perempuan yakni peran produktif, peran reproduksi dan peran sosial.


Sumber : http://pontianak.tribunnews.com/2017/10/20/cegah-kebiasaan-habis-program-bubar-konsorsium-perempuan-beri-pelatihan-strategic-planning?page=all
Share:

Harap Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa Pikat Wisatawan

 *Jadi Alternatif Destinasi Wisata Baru di Kota Pontianak

Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang berpeluang untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) disamping itu juga diharapkan dengan pengembangan kawasan wisata dapat berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat didalam kawasan. Kota Pontianak yang terus melakukan pembenahan khususnya infrastruktur yang menunjang sektor pariwisata dengan dibangunnya taman-taman kota seperti di Bundaran Tugu Digulis UNTAN, Taman Akcaya kota baru, kawasan keraton pontianak, tepian sungai kapuas dan kawasan tugu khatulistiwa menjadikan potensi wisata kota semakin bergeliat.

Salah satu potensi lain yang berpeluang untuk dikembangkan adalah terdapatnya sekelompok warga yang mengembangkan usaha kerajinan tenun di Kelurahan Batulayang. Lokasinya yang masih berada di dalam Kota Pontianak yaitu di Gang Sambas Jaya dan Sambas Mandiri Kelurahan Batu Layang, terletak diantara dua situs besar antara lain Kawasan wisata Tugu Khatulistiwa dan Makam kesultanan Pontianak di Batu Layang yang dapat dijangkau baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat menjadikan lokasi ini strategis untuk menjadi kawasan wisata kota.

Kawasan yang melingkupi 3 RT yaitu RT 2, 3 dan 4 di RW 15 Kelurahan Batu Layang ini terbilang cukup banyak memiliki potensi yang layak dikembangkan sebagai kampung wisata khususnya wisata tenun, dimana terdapat 17 Rumah yang memiliki alat tenun bukan mesin dimana pada satu rumah bisa terdapat lebih dari satu alat tenun.

Beberapa potensi lain yang ada dilokasi antara lain terdapat kerajinan tangan dari manik-manik, berbagai jenis pengembangan kue tradisional seperti keripik rengginang berbahan dasar ubi, grubi, onde-onde, cucur dan beragam kue tradisional lainnya.

Salah satu dukungan didapat dari Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa pendampingan yang dilakukan oleh Tim PKM Iptek Bagi Pengembangan Produk Unggulan Daerah (IbPUD) Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak yang bersumber dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, warga didalam lokasi mendapatkan beberapa kegiatan penguatan kapasitas berupa pelatihan antara lain : Pelatihan motivasi usaha, pelatihan menganik, pelatihan teknik kombinasi warna, pelatihan diversifikasi produk, pelatihan pembukuan, pelatihan internet marketing atau pemasaran berbasis IT serta pendaftaran Hak Cipta, diharapkan dapat meningkatkan kesiapan pelaku kerajinan tenun untuk pengembangan produk dan menyambut pasar yang lebih besar juga diharapkan dapat mendukung persiapan lokasi sebagai kawasan wisata dengan ikon yang diangkat berupa tenun corak insang.

“Kami melakukan pendampingan di lokasi ini karena melihat potensi yang besar dalam pengembangan produk tenun khususnya corak insang sebagai produk unggulan daerah serta pengembangan kawasan sebagai kawasan wisata, ditahun 2017 ini kami memberikan beberapa kegiatan yang diharapkan dapat membantu warga dalam upaya pengembangannya dan kami rencanakan kerjasama ini akan dilanjutkan untuk tahun 2018 hingga 2019 pasca kegiatan monev yang akan dilakukan oleh Tim Kemristekdikti, semoga harapan warga untuk menjadikan kampung mereka sebagai kampung wisata dapat terwujud” ungkap Husna Amalya Melati, Dosen FKIP UNTAN selaku ketua tim PKM IbPUD.

Corak insang merupakan motif yang ditetapkan sebagai motif khas yang dijadikan salah satu ikon Kota Pontianak. Pengembangannya dapat dilihat dari produksi pakaian yang berbahan kain bermotif corak insang, produk kerajinan seperti tas, anyaman atau terlihat juga dibeberapa bagian di Kota Pontianak dilakukan pengecatan menggunakan motif corak insang baik di Pot bunga, bak sampah, gapura atau dinding bangunan.

Pengembangan corak insang juga menjadi tujuan dasar pengembangan produk dan kawasan wisata di batu Layang ini, dengan menjadikan Kerajinan Tenun bermotif corak insang sebagai magnet utama pengembangan kawasan.

Kolaborasi dan dukungan dalam pengembangan lokasi ini telah terlihat dari pertemuan di Kantor Bappeda Kota Pontianak beberapa waktu lalu tepatnya hari kamis tanggal 14 september 2017 yang dipimpin langsung oleh Kepala Bappeda Kota Pontianak dan dihadiri stake holder terkait seperti Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata, Dinas Koperasi, perindustrian dan perdagangan, Dinas Komunikasi dan informatika, Badan ekonomi kreatif kota Pontianak (Be Kraf), lurah batu Layang, camat pontianak utara, Bank Pasar, Inkubator Bisnis Bank Indonesia, Inkubator Bisnis FEB UNTAN, tim KOTAKU dan beberapa institusi lainnya.

Pertemuan yang diinisiasi oleh Bussines Development Center (BDC) Zamrud Khatulistiwa dari Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) tersebut berdampak positif dalam pencapaian tujuan pengembangan produk serta kawasan kampung wisata tenun khatulistiwa dimana didalamnya tercetus komitmen dukungan dan kesiapan berkolaborasi dalam pengembangannya.
Kepala Bappeda dalam kesempatan tersebut menyatakan apresiasi serta antusias untuk mendukung ide pengembangan kampung wisata.

“Saya berharap Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa menjadi Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) di Kota Pontianak dimana hingga saat ini telah terdapat 22 ODTW dan diharapkan Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa menjadi ODTW ke-23 yang ada di Kota Pontianak ke depan. Hal ini juga diharapkan dapat menjadi pendukung agar pengembangan produk Tenun bermotif Corak Insang dapat pula menjadi salah satu Produk Unggulan Daerah yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga, pelestarian tradisi menenun serta menambah PAD bagi Kota Pontianak” Ungkapnya.

Pasca Kolaborasi aksi pengecatan yang juga telah dilakukan beberapa waktu lalu tepatnya pada hari minggu tanggal 24 September 2017 di Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa Gang Sambas Jaya Kelurahan Batu Layang Kecamatan Pontianak Utara, warga yang juga telah membentuk organisasi pengelola yang dinamakan lembaga pengelola Kawasan Kampung Wisata tenun Khatulistiwa terus melakukan koordinasi dan beberapa langkah aksi untuk pengembangan tempat tinggal mereka untuk dicanangkan sebagai kawasan wisata di Kota Pontianak.

“Mungkin belum banyak yang tahu bahwa di Kota Pontianak ini ternyata terdapat satu daerah yang warganya mengembangkan kerajinan tangan tenun menggunakan alat tenun manual/tradisional” ungkap mustafa ketua RW 15 kelurahan batu layang.

“Iya, mungkin banyak yang tahu kalo di Kabupaten Sambas ada kerajinan tenun songket, di kabupaten sintang, Kapuas hulu ada tenun ikat dayak, namun siapa yang telah tahu bahwa di dalam Kota Pontianak juga ada warga yang mengembangkan usaha tenun dirumah-rumahnya? Inilah yang menjadi permasalahan sekaligus peluang yang diharapkan dapat dikembangkan kedepan, saya berharap seluruh komponen dapat mendukung harapan kami selaku masyarakat untuk mengembangkan potensi yang kami miliki, dan kami siap bekerjasama baik bersama pemerintah kota, dunia usaha, perguruan tinggi maupun kelompok peduli lainnya yang bersedia menjadi mitra kami” tutup mustafa.



Baca : http://suarapemredkalbar.com/berita/ponticity/2017/09/25/motif-corak-insang-membalut-kampung-tenun
Share:

Pertanian Berkelanjutan Perlu Perhatikan Aspek Gender

PONTIANAK - Peran perempuan dalam penerapan dalam sistem pertanian berkelanjutan memiliki posisi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan apabila dilihat, jumlah petani perempuan lebih banyak dari pada petani laki-laki. Untuk itu edukasi terhadap perempuan dalam penerapan sistem pertanian berkelanjutan sangat diperlukan.
Suasana Kegiatan Media Gathering di Aula Dinas Pertanian Kalbar

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Heronimus Hero mengatakan bahwa sejak tahun 2008 pengarusutamaan gender telah digalakkan, sehingga dalam program pertanian pun perlu memperhatikan aspek gender. Faktanya memang saat ini dunia pertanian tidak lepas dari peran wanita.
“Faktanya memang peran wanita bagi pertanian sudah bayak, mulai dari menanam, membersihkan lahan, memanen, hingga menjemur, hampir semua tahapan,” katanya saat menjadi pembicara dalam kegiatan Media Gathering di Aula Dinas Pertanian Kalbar, Selasa (29/8).
Hal ini juga diperkuat dengan data yang dihimpun Konsorsium Perempuan Keberlanjutan Penghidupan Kalimantan Barat, yang menyebut bahwa petani perempuan tidak hanya terlibat saat mulai menanam padi namun juga ikut serta dalam pemeliharaan hingga selesai panen. Hal inilah yang menjadi alasan yang kuat untuk memberikan pemahaman serta edukasi tentang pertanian secara tepat. Apalagi, untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dibutuhkan penerepan pengelolaan tanaman secara tepat.
“Orientasi kepada lingkungan hidup saat ini menjadi tuntuan kita agar penerapan pertanian berkelanjutan bisa dilakukan, seiring dengan pemahaman masyarakat yang semakin meningkat, khususnya masyarakat tani. Harapan kita hal ini semakin tersosialisasikan dan diimplementasikan,” katanya.
Dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan, tentu membutuhkan konsep serta program pertanian yang terpadu. Saat ini memang telah ada konsep terkait hal tersebut, namun penerapannya belum maksimal.
“Saat ini konsep pertanian berkelanjutan sudah bagus, tapi penerapannya tidak sesuai harapan,” ungkap Dosen Pertanian Universitas Tanjungpura, Tris Haris Ramadhan yang juga merupakan salah satu pembicara dalam kegiatan yang sama.
Tris mengatakan saat ini masih ada petani yang belum memahami cara bertani dengan benar. Ia mencontohkan dalam penggunaan herbisida, yang merupakan salah satu produk dari teknologi pertanian. Penggunaannya untuk keberlanjutan pertanian dinilai kurang baik. Namun, dikarenakan penggunaanya dapat membuat produksi cepat, maka banyak petani yang memilih menggunakan hirbisida. “Pemahan terkait pemakaiannya itu harus selaras, selama ini pemahaman dilapangan tidak sejalan,” ucapnya.
 Sementara itu, Praktisi Pertanian, Joko Wirianto menyebut adanya banyak kendala bagi petani untuk bisa mengembang usaha taninya. Selain kurangnya pemahaman cara menamam dan pengelolaan pasca panen, petani juga menghadapi kendala-kendala lain diantaranya infrastruktur yang belum memadai, kurangnya sarana dan prasarana, lahan yang sempit, serta permodalan.
“Hambatan-hambatan ini membuat petani tersebut jadi miskin, kemudian menjual tanah, akibatnya tanah tersebut ada yang menjadi perumahan sehingga tidak berkelanjutan,” katanya.
Guna meminimalisir hambatan-hambatan tersebut, utamanya terkait pengetahuan serta mindset, maka diperlukan adanya upaya untuk memberikan kesadaran  petani. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan melakukan pendekatan pengorganisasian dan peningkatan kapasitas perempuan.
Mulyadi, selaku Perwakilan Konsorsium Perempuan dan Keberlanjutan Penghidupan menyetujui hal tersebut. “Pendekatan pengorganisasian dan peningkatan kapasitas perempuan merupakan rangkaian aktivitas pemberdayaan dan pembangunan kesadaran serta memotivasi perempuan untuk terlibat dalam organisasi perempuan,” katanya
Hal ini juga menjadi alasan pihaknya menggelar Media Breafing yang mengangkat tema “Peran Petani Perempuan Dalam Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan”. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan media se-Kalimantan Barat. (sti) 



Sumber : http://www.pontianakpost.co.id/pertanian-berkelanjutan-perlu-perhatikan-aspek-gender
Share:

Gubernur Kalbar Ajak Kaum Perempuan Berpartisipasi dalam Membangun Negeri

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, MH mengajak para kaum prempuan untuk turut hadir dalam pembangunan di negeri. Ajakan itu disampaikan pada workshop peningkatan kapasitas politik kebangsaan berperspektif gender, Hotel Kini, Selasa (1/8/2017),
“Antara laki-laki dan prempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sejarah Dunia telah mencatat begitu banyaknya prempuan yang ikut dalam pembangunan, ini membuktikan bahwa prempuan memiliki banyak hal strategis,” terang Cornelis.
Ditambahkannya, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan keterwakilan prempuan diparlemen, tetapi hasilnya belum sesuai yang diharapkan.
Berbagai faktor yang sering terdengar adanya persepsi yang sering dipegang bahwa arena politik adalah untuk laki-laki, dan bahwa tidaklah pantas bagi wanita untuk menjadi anggota parlemen. Wanita berkeluarga sering mengalami hambatan-hambatan tertentu, khususnya persoalan izin dari pasangan mereka. Banyak suami cendrung menolak pandangan-pandangan mereka dan aktifitas tabahan mereka diluar rumah. Kegiatan-kegiatan politik biasanya membutuhkan tingkat keterlebihan yang tinggi.
Menurut Cornelis meningkatkan keterwakilan politik prempuan berati juga meningkatkan kesfektifan mereka dalam mempengaruhi keputusan-keputusan politik yang akan dapat menjamin hak-hak kelompok prempuan dan masyarakat luas, serta mengalokasikan berbagai sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Secara aturan keterlibatan prempuan untuk terjun di dunia politik sudah cukup dasar hukumnya. semua telah di atur dalam undang-undang, Tegas Cornelis.
Dalam laporannya kepala dinas pemberdayaan prempuan dan perlindungan anak prov kalbar Drs SUmarno mengatakan memasuki tahun 2019 situasi politik ditanah air tentu kian menghangat dikarenakan tahun 2019 bangsa Indonesia akan menggelar pesta demokrasi untuk  memilih calon wakil rakyat. Para prempuan dapat terjun dan terlibat aktif dalan dunia politik. Salah satu bekal yang dapat diberikan pada calon wakil rakyat adalah dengan memberikan pengetahuan politik kebangsaan berpespektif gender serta mengasah kemampuan dan kesiapan mental prempuan yang akan menjadi pelaku aktif dalam dunia politik.
Berdasarkan hal tersebut, menurut Sumarno dinas pemberdayaan prempuan dan perlindungan anak mempunyai kewenangan dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dibidang pemberdayaan prempuan, kegiatan workshop peningkatan kapasitas politik kebangsaan berperspektif gender. Dengan tujuan menginspirasi dan menggerakan keinginan serta memperkuat semangat perempuan untuk menjadi pelaku aktif dalam politik, memperluas wawasan perempuan terhadap ssitem politik, mempersiapkan mental perempuan untuk terjun ke dunia politik, dan meningkatkan kompetensi dan kualitas peran perempuan dalam dunia politik kebangsaan berperspektif gender. (Humas Pemprov Kalbar)
Share:

Kampanye Pemberdayaan Perempuan Muda

Puluhan perempuan muda dengan t-shirt pink, terlihat antusias menjelaskan pemanfaatan sedotan bekas kepada pengunjung pameran di halaman UPT Bahasa Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat. Pameran bertema Waste to Wealth pada 12 Juli 2017 itu, merupakan rangkaian program Go Kalimantan Girls yang dihelat Mei, sebelumnya. Kepala Unit Pelaksana Teknis Bahasa, Stella Prancisca, mengatakan program ini bertujuan untuk pemberdayaan perempuan di Pontianak, dan Kalimantan keseluruhan. Pesertanya adalah perempuan usia 18 hingga 25 tahun. Jurnalis Perempuan Khatulistiwa mendukung penuh peliputan kegiatan ini. 

JPK merekam kegiatan sekitar 40 dara muda, yang mendalami waste management, khususnya mengubah fungsi sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Selain itu, mereka juga diedukasi menjadi agen perubahan lingkungan di masyarakat. Para perempuan muda ini Mereka juga berperan mengatasi isu-isu lingkungan dan kemiskinan. Pameran ini mendapatkan kunjungan Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Joseph R Donovan. Donovan yang didampingi Rektor Universitas Tanjungpura, Thamrin Usman, antusias dengan berbagai barang kerajinan yang dipamerkan. Donovan juga mengagumi gaun buatan peserta yang terbuat dari kulit jagung. Joseph menegaskan Amerika Serikat tetap memimpin pelestarian dan perlindungan lingkungan. Terbukti, Amerika dapat menurunkan emisi karbon dalam lima tahun terakhir sebanyak 11,5 persen.




Share: